Seri UKM: Cash is the King: Hati-hati Piutang Anda.

Tyas Utomo Soekarsono, April 2004,
Ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia 2001-2010

Sedemikian pentingnya uang tunai (cash) dalam bisnis, sehingga dikenal istilah cash is the king, uang tunai adalah raja. Dalam istilah lain, dikenal cash is blood, uang tunai adalah darah. Sebagaimana tubuh manusia yang dapat mati karena kekurangan darah, perusahaan pun dapat mati karena kekurangaa cash. Sebagaimana manusia yang mengalami pendarahan, perusahaan pun disebut ‘bleeding’ kalau mengeluarkan banyak uang tunai yang tidak perlu.

Seringkali kita mendapati sebuah perusahaan dengan nilai penjualan yang tinggi, tetapi harus berhutang kanan kiri untuk membiayai jalannya perusahaan. Dan lebih buruk lagi, banyak usaha yang harus tutup karena kurangnya cash dalam perusahaaan.  Mengapa bleeding dapat terjadi dalam sebuah perusahan? Ada beberapa hal yang mungkin jadi penyebabnya yang saya dapat kemukakan dalam tulisan ini, diantaranya adalah system pembayaran penjualan dan piutang yang tidak terkontrol dan terencana.

Penjualan Cash Vs Credit

 

Terkadang kita sering berbangga hati dengan tingkat penjualan kita yang tinggi atau yang kita kenal omzet.  Namun demikian, pertanyaan berikutnya adalah berapa banyak piutang dagang yang timbul dari penjualan itu.  Sebagai contoh, agen konveksi, bila penjualan per bulan misalnya Rp. 100 juta, dan kita baru dibayar dalam waktu 3 bulan. Artinya, ada dana kita sebesar Rp. 300 juta yang mandeg dalam bentuk piutang,  yang artinya juga kalau kita membeli persediaan dengan uang tunai, maka harus ada dana segar (sebutlah Rp.75 juta sebulan, sehingga total 225 juta) yang harus kita sediakan untuk modal  barang seharga 300 juta itu.

 

Dengan sistem penjualan seperti itu, tiba-tiba kita merasa bahwa skala bisnis kita adalah besar dan dana yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis pun besar. Padahal, sebelumnya kíta beranggapan bahwa bisnis ini hanya perlu modal kecil.   Coba kita bandingkan, dengan system penjualan kredit, anda harus menyediakan modal kerja untuk produksi sebesar Rp. 225 juta dalam waktu 3 bulan.  sedangkan bila anda menjual dengan pembayaran dua bulan, maka anda harus menyediakan modal kerja sebesar Rp. 150 juta.  Apabila asumsi anda dapat membuat dan menjual pakaian setiap pekan dengan nilai Rp. 25 juta dan harga pokok pembelian Rp. 18.75 juta, maka dapatlah kita buat tabel sebagai berikut:

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *