Seri UKM: Keuangan dan Pemisahaan Kekayaan

Tyas Utomo Soekarsono, May 2004,
Ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia 2001-2010

Sebagaimana digambarkan dalam bentuk kepemilikan, salah satu hal yang sangat banyak disebut-sebut adalah tanggung jawab keuangan: baik yang terbatas mau pun tidak terbatas kekayaan pribadi.  Kekayaan yang terbatas adalah kekayaan usaha saja, yang terpisah dari kekayaan pribadi.  Oleh karena itulah, dalam menjalanka usaha kita, diperlukan kemampuan untuk membuat pencatatan keuangan sehingga kita bisa mengetahui berapa uang perusahaan dan berapa uang pribadi.

Pencatatan keuangan usaha pada intinya terdiri dari dua bagian besar pencatatan: pencatatan keuangan yang menunjukkan posisi keuangan perusahaan (neraca), dan pencatatan yang menunjukkan kegiatan perusahaan (rugi laba).  Sebagai contoh, si Abi memulai usaha baju muslim: beli dengan harga lebih murah, dan menjual dengan mengambil keuntungan yang memungkinkan.  Kalau kita mempunyai uang yang kita gunakan sebagai modal awal, taruhlah 5 juta, maka kita mencatat di buku catatan kas kita mencatatnya sebagai modal awal usaha ini.  Ini menunjukkan kekayaan perusahaan anda yang baru anda mulai

Sekarang, dengan uang Rp. 5 juta itu,  marilah kita mencatat aktivitas abi hari ini sebagai berikut:

  1. Abi membeli baju untuk dijual lagi di tanah sebanyak 40 baju, @ Rp. 50 ribu, total Rp. 2 juta
  2. Ongkos perjalanan abi dan makan siang ke tanah abang Rp. 50.000
  3. Mainan anak yang abi duga baik untuk dijual dengan harga Rp. 10.000, beli 10 buah juga, total Rp. 100.000.
  4. Setelah sampai di rumah: baju terjual 20 baju dengan harga Rp. 100 ribu, 10 baju dibayar tunai pada saat pulang Rp 1 juta, dan 10 baju dibayar dua kali, sekarang setengah (Rp. 500.000), dan akhir bulan setengah.
  5. Ternyata anak abi yang berjumlah 5 orang itu senang dengan mainan yang abi beli, dan tentu saja sebagai orang tua yang baik, abi tidak terlalu hitung-hitungan, maka lima mainan abi berikan untuk anak-anak
  6. Di malam hari, tetangga abi anaknya melahirkan, tidak ada uang tunai dan membutuhkan uang biaya melahirkan sebanyak Rp. 500 ribu rupiah.  Tetangga itu lebih dari saudara sendiri, dan tentunya abi adalah pengusaha yang jauh lebih baik dari tetangga abi.  Abi pun pinjamkan uang tersebut.

Abi menutup hari dengan menghitung amal dan amwal (harta) sebagai berikut:

Abi merasa puas sekali dengan catatan kas abi hari ini.  Abi sudah menunjukkan sisi debet (kiri) yang sebagian besar menunjukkan penerimaan dan abi sudah menggunakan konsep kredit (sisi kanan) yang menunjukkan pengeluaran, dan abi sudah menunjukkan berapa jumlah uang yang ada di tangan abi.  Setelah siap-siap tidur, abi diskusi dulu dengan umi, membicarakan berbagai hal, anak-anak hingga ke bisnis.  Sampai si ummi bertanya: “Bi, kita untung gak hari ini?”.  Abi sudah agak ngantuk, kaget juga dengan pertanyaan simple mi, tapi menjawab: “AlhamduliLlah Mi, ada 3,8 juta di tangan, bisa buat belanja sehari-hari kita.

“Jadi kita untung 3.8 juta Bi?”

“Oh nggak Mi, untungnya belum dihitung, tapi tadi laku 20 baju, tinggal setengah lagi kejual”

“Oh dua puluh baju, jadi jualan 2 juta, untung 1 juta dong, kan beli 50, jual 100, untung 50 kali 20, jadi 1 juta ….dan seharusnya sisa uang usaha kita 5 juta dong”

“Iya sih, untungnya 1 juta.  Tapi duitnya nggak segitu.  Kan dipakai ongkos jalan 25 ribu…”

“Oh jadi 4 juta 975 ribu? Trus, kok Cuma 3 juta delapan ratus tujuh puluh lima?

“Eeee… kan ada yang kredit belinya, 500 ribu?”

“Kurang apa lagi jadi 3.8 juta bi?”

“Kan tadi tetangga kita melahirkan, pinjam 500 ribu juga..”

“Lho, itu kan pengeluaran pribadi, kok pakai uang usaha kita?”

“Ya udah, besok umi gantiin ya itu uang.. sama gantiin juga uang mainan anak-anak yang harusnya barang dagangan”.

“Siap Bi…”

Abi akhirnya lega juga karena berhasil menerangkan umi kemana saja uang usaha mereka, dan semua dapat dipertanggungjawabkan.  AlhamduliLlah tidak ada pencatatatan yang hilang.  Yang paling penting uang tunai masih ada untuk beli barang dagangan lagi besok.

“Bi…” Si Ummi rupanya masih memikirkan pembicaraan tadi.

“Kayaknya ummi gak ada uang buat gantiin yang 500 pinjaman tetangga kita, terus juga buat gantikan mainan anak-anak itu.  Hitung aja deh jadi pinjaman umi ke usaha 500 ribu. Terus, yang mainan anak-anak anggap aja deh pengeluaran “entertainment”, kan kalau anak-anak gak ada mainan, bisa gangguin abi dagang? Tapi lain kali kalau beli-beli keperluan rumah tangga, jangan dicampur-campur dengan dagangan dong Bi..”

“Ok Mi, tapi itu kan uang kita-kita juga, abi fikir sah-sah saja kita pakai”

“ya iya Bi, sah-sah saja”

“Bi..”

“Ya Mi…”

“Jadi untung kita berapa hari ini….?”

“….besok aja Mi Abi hitung….abi juga bingung sekarang, kayaknya Cuma ada 5 transaksi, tapi kok untungnya abi gak bisa hitung ya…?

Sepertinya familiar ya diskusi di atas? Berapa sering dalam seminar-seminar permasalahan ini menjadi hal yang biasa dialami oleh kita. Demikianlah sedikit ilustrasi perlunya dipisahkan antara kegiatan usaha dan kegiatan lainnya yang mana biasanya sulit untuk dipisahkan apabila kita adalah pemilik sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *