Tentukan Tujuan (Goal) Usaha Anda

Sebaimana kita fahami bahwa bisnis adalah ketekunan, kerja keras, pemahaman dan pengalaman.  Kita juga faham, bahwa semua unsure dalam membangun bisnis itu harus dimulai dari sekarang, tanpa ditunda lagi.

Taruhlah sekarang kita sudah menjalani bisnis kita, sebut saja, kita dagang bakso.  Sebagaimana digambarkan, dengan modal 1 – 1,5 juta rupiah, kita bisa punya usaha bakso dorongan.  Bila kita bertanya kepada tukang baso pada umumnya di jalan, apakah tujuan usaha mereka, mereka rata-rata akan menjawab: “yah, usaha ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari…” Apakah jawaban itu salah? Tidak! Apalagi, kita ingat lagi bahwa hasil utama dari pengusaha adalah menghasilkan keuntungan, yang mana tentunya keuntungan itu akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tetapi apakah jawaban itu betul? Tidak juga.  Saya sering bertanya kepada dua kelompok orang mengenai bisnis mengenai tujuan bisnis mereka.  Kelompok yang pertama adalah orang yang belum pernah berusaha, dan kelompok yang kedua adalah orang-orang yang sudah berbisnis.  Kelompok yang pertama biasanya menjawab dengan jawaban yang “indah” seperti  “ingin mendidik orang”, “ingin menumbuhkan jiwa enterpreneurship” , “ingin memberi pekerjaan petani”, atau “menguatkan da’wah” atau jawaban-jawaban idealis lainnya.   Namun, jawaban kelompok kedua, biasanya jawabannya lebih “kasar” dan “tidak idealis” seperti “..mencari untung..”, “membangun bisnis yang mudah…”, “kaya..” dst.

Kalau kita ingin menjawab secara jujur, keuntungan adalah tujuan dari perusahaan.  Masalahnya, terkadang kita sering alergi untuk diasosiasikan sebagai orang yang mencari untung.  Hal ini disebabkan oleh orientasi yang buruk dari mencari keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu sesingkat-singkatnya, dengan menghalalkan segala cara.  Sehingga seringkali kita memulai bisnis malu untuk mengatakan “saya bisnis untuk mencari untung”.  Padahal, bagi pebisnis, pernyataan “jangan masuk bisnis itu,  nggak menguntungkan” merupakan pernyataan yang tidak tabu, dan bahkan sangat sah.

Dalam dialog yang ideal, tujuan sebuah perusahaan haruslah “memenuhi kepentingan seluruh stake holder”, yang mana banyak sekali bertentangan.  Kepentingan pemegang saham, pemerintah, pegawai, pemasok, pelanggan boleh dibilang gabungn dari berbagai kepentingan yang tarik menarik.  Oleh karena itulah, dalam teori ilmu ekonomi, keuntungan disebutkan sebagai “satuan kinerja yang paling konsisten” (the most consistent measure of performance). Kenapa? Karena dengan keuntungan inilah, perilaku sebuah perusahaan menjadi konsisten dalam mensinkronisasi seluruh kepentingan stake holder.

Oleh karena itulah, dengan sedikit gambaran di atas, saya ingin menekankan perlunya sebuah tujuan dari usaha anda, yang mana dalam teori ekonomi, manajemen dan bisnis mana pun, tujuan sebuah perusahaan adalah mencari keuntungan.  Namun demikian, kita juga sama-sama paham bahwa dalam bisnis tidak boleh menzholimi dan berlaku curang. Sekali lagi, perusahaan adalah organisasi laba, sehingga ada sebutan organisasi nir laba untuk yayasan atau usaha amal lainnya.

Dalam ilmu manajemen, sebuah tujuan (goal) adalah hal yang sebuah usaha inginkan dan rencanakan untuk dicapai. Dari pembicaraan di atas, kita tahu bahwa jawabnya adalah : mendapat keuntungan. Sekali lagi, kita harus akui hal ini, kita harus mengetahuai sesadar-sadarnya, kita harus menginginkannya, dan kita harus merencanakannya untuk mencapai hal itu.
Tujuan perusahaan merupakan suatu hal yang harus kita tentukan. Ada beberapa keuntungan apabila kita menetapkan tujuan perusahaan secara sadar. Yang pertama adalah motivasi. Salah satu karakteristik orang-orang yang sukses dalam bidangnya adalah dengan kuatnya visi dalam bidangnya. Dan dengan misinya itu, dengan cita-citanya itu, orang-orang besar itu bekerja sekeras-kerasnya dalam mencapai cita-citanya. Hal ini sudah kita pahami, bagaimana rasuluLlah s.a.w. memvisikan tujuan dakwah ini, sehingga beliau berdakwah tanpa kenal lelah. Selain itu, sedemikian kuat beliau memvisikannya, sehingga para sahabat seolah-olah melihat tujuan itu di depan mata, dan mereka bekerja sekeras-kerasnya untuk mencapai tujuan tersebut.

Dalam bisnis, sebuah perusahaan haruslah memiliki sebuah pernyataan misi. Pasti anda sering melihat dalam sebuah kantor, ada “mission statement”. Dalam literature manajemen, pernyataan misi adalah pernyataan organisasi adalah bagaimana perusahaan akan mencapai tujuan dalam lingkungan di mana perusahaan itu melakukan bisnis. Pernyatan misi ini rata-rata singkat saja, seperti misalnya “memberi pelayanan perbankan yang terbaik”, atau “menjadi acuan toko buku di Indonesia”, tetapi membuat kita faham cita-cita dan tujuan perusahaan kita di jangka panjang.

Di bawah pernyataan misi, tujuan dapat diklasifikasikan lagi menjadi tujuan jangka panjang (di atas lima tahun), tujuan jangka menengah (satu hingga lima tahun), dan tujuan jangka pendek (di bawah lima tahun).

Manfaat yang kedua dari adanya tujuan ini adalah perencanaan.  Dengan kita memiliki tujuan yang telah kita tetapkan, kita akan merencanakan langkah-langkah yang harus diambil untuk mencapainya.  Betapa banyak saya menemukan bisnis yang tidak berkembang karena tidak direncanakan dengan baik.  Barangkali banyak diantara kita yang bilang “kita berencana, Allah yang menentukan”, atau berkilah “ah, Indonesia saja punya Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), tetap saja amburadul”, atau berkilah juga “tidak merencanakan itu merupakan sebuah rencana lho”.  Untuk orang-orang yang berpikiran seperti itu, barangkali kemalasan lebih dominan dari pada sifat ingin maju dan kerja keras. Biasanya kita berbisnis dengan sebuah rutinitas.  Atau, barangkali, kita takut untuk berencana karena khawatir kita sendiri tidak dapat konsisten dalam mencapainya, atau, kita tidak tahu bagaimana caranya berencana.

Dengan menetapkan tujuan, misalnya berapa target penjualan kita dalam satu tahun, kemudian kita rencanakan bagaimana kita mencapainya, maka keputusan-keputusan operasional bisnis kita akan lebih terarah.  Oleh karena itulah, manfaat yang ketiga dari tujuan adalah parameter pencapaian.  Dengan selalu mengevaluasi pencapaian tujuan-tujuan kita, maka kita akan selalu dapat melihat apakah kita menjalankan bisnis kita dengan benar.

Dan manfaat yang terakhir dari tujuan adalah sikap atau budaya (culture) yang terbentuk. Dimana dengan membiasakan diri untuk selalu bertanya apa tujuan dari bisnis ini, berapa target pendapatan perusahaan, berapa target pelanggan yang kita inginkan, maka akan menimbulkan sikap dan kebudayaan yang progresif dan professional di dalam perusahaan kita.  Perilaku bukanlah sebuah proses singkat dari penentuan tujuan, tetapi merupakan sebuah manifestasi pemahaman dan praktek yang berkesinambungan.

Oleh karena itulah, setelah kita menentukan bisnis kita, mulai menjalankannya, maka marilah kita menentukan tujuan dan target usaha kita. Seluruh yang saya ungkapkan di sini bukan kemudian diterjemahkan dalam keharusan dokumentasi dan administrasi yang lengkap, tetapi bisa saja dilaksanakan secara sederhana. Tapi cobalah dari sekarang. Lakukan sekarang, juga, sekarang bayangkan tujuan usaha anda dalam jangka waktu lima tahun, tiga tahun, dan satu tahun. Sulit? Tentu, tapi sekali anda berani melakukannya, inshaAllah langkah-langkah anda lebih mantap.
Sekali lagi: mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *