Seri UKM: Modal apa yang saya Miliki?

Tyas Utomo Soekarsono, April 2002,
Ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia 2001-2010

Dalam sebuah kuliah singkat mengenai ekonomi Islam, saya ditanya oleh seorang ibu rumah tangga yang sangat semangat untuk turut menggerakkan perekonomian: “Pak, kalau sekarang saya mau mulai usaha, kira-kira bisnis apa yang sekarang bagus untuk saya mulai…”.

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini biasanya diajukan oleh dua macam orang: orang yang ingin berinvestasi di suatu daerah yang sama sekali belum pernah dikunjungi, atau orang yang sama sekali belum pernah berbisnis, sehingga belum pernah ada gambaran berusaha itu bagaimana.  Dalam menyikapi pertanyaan oleh kelompok orang yang pertama barangkali lebih mudah, cukup dengan melihat data statistik sebuah daerah, kita identifikasi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) daerah tersebut, kita tanya sektor-sektor bidang usaha yang paling banyak memberi kontribusi, dan tinggal kita pilih mana yang paling kita sukai.

Tetapi kalau pertanyaan diajukan oleh kelompok orang yang kedua, ini yang lebih sulit.  Barangkali untuk menjawab pertanyaan ini, saya akan bertanya kembali: anda punya modal apa?   Modal adalah sebuah sumber daya yang harus dimiliki oleh seorang yang ingin memulai bisnis.  Sebagaimana definisi kewirausahaan adalah kemampuan menciptakan bisnis baru untuk berkembang dengan menggunakan sumber daya yang ada, sumber daya inilah yang kita sebut modal.  Nah, selanjutnya, bagaimana kita mengidentifikasi modal ini? Modal dapat diidentifikasikan ke dalam dua hal: fisik dan non fisik yang akan kita bahas di bawah ini.

Modal Fisik

Modal fisik mencakup uang, tanah, gedung, kendaraan, dan berbagai benda yang kita miliki.  Yang biasanya paling sering kita dengar dengan modal adalah uang.  Namun jangan lupa, berbagai benda yang kita miliki sebenarnya bisa juga kita gunakan.  Misalnya, bila kita memiliki rumah, betapa banyak kita lihat rumah digunakan sebagai warung, restoran, kafe,  toko, taman kanak-kanak, tempat penitipan anak, kantor, kontrakan, tempat kost dsb.  Dan bila kita perhatikan di jalan-jalan yang ramai di Jakarta, boleh dibilang hampir di seluruh jalan fungsi rumah tinggal telah berubah menjadi tempat usaha.

Selain rumah yang digunakan sebagai modal tempat, jangan lupa bahwa rumah, tanah, kendaraan kita juga memiliki nilai, yang dapat dirubah menjadi uang, dalam bentuk pinjaman.  Kita dapat mencari pinjaman dengan jaminan barang yang kita miliki ini ke berbagai tempat, mulai dari perbankan, koperasi hingga rumah penggadaian. Barangkali tampaknya meminjam uang ini tabu di mata beberapa dari kita.  “ah, seperti apa saja sampai menggadaikan rumah untuk meminjam..”, namun saya ingin mengingatkan bahwa kita meminjam bukan untuk konsumsi membeli kebutuhan sehari-hari dsb, tetapi untuk usaha. Artinya, kita justru mengoptimalkan fungsi harta yang kita miliki.

Yang memang harus diingat dalam meminjam uang ini adalah bagaimana mengembalikannya.  Dengan demikian, bila kita memutuskan untuk meminjam uang, kita harus tahu betul skedul pengembaliannya.  Ini juga berarti kita harus memiliki perencanaan bisnis, terutama perencanaan alur kas, sehingga pengembalian menjadi lancar.  Juga harus diingat bahwa dalam meminjam pasti ada biaya tambahan, mulai dari misalnya “fee administrasi”, bunga (dalam bank konvensional), biaya bagi hasil, margin dsb.  Oleh karena itulah, sekali lagi perencanaan kita juga harus baik.

Sebagai contoh, anda memiliki tanah yang tidak terlalu luas misalnya 50 meter persegi dengan rumah kecil di atasnya.  Selain anda dapat kontrakkan ke orang lain, anda dapat menggunakan tanah anda sebagai jaminan dengan nilai, misalnya Rp. 10 juta (harga tanah anggaplah 200 ribu per meter).  Dengan modal 10 juta misalnya, anda dapat memulai usaha anda (masih ingat tulisan saya yang dulu? dimana tukang es podeng dengan modal 1.5 juta dapat menghasilkan 6 juta per bulan).  Dengan demikian anda akan dapat memiliki pendapatan yang ganda, dari rumah kontrakan dan dari usaha yang anda miliki tersebut.

Modal Non Fisik

            Kebanyakan dari kita barangkali tidak memiliki modal fisik yang ada di atas.  Oleh karena itulah, kita harus menggali modal non fisik yang kita miliki.  Modal non fisik yang dapat mencakup pengetahuan, pengalaman, motivasi dan jaringan.

Bila kita melihat dalam perekonomian, sebetulnya dalam perekonomian itu ada beberapa sektor, yaitut sektor pertanian, industri, perdagangan dan jasa.  Sektor pertanian, perindustian dan perdagangan, modal fisik merupakan salah satu persyaratan yang harus ada.  Namun dalam sektor jasa, modal fisik tidaklah harus selalu ada.

Sekarang ini, orang-orang yang berpenghasilan tinggi di dunia banyak didominasi oleh orang-orang yang mengembangkan modal non fisik ini.  Contoh paling spektakuler adalah Bill Gates, yang dengan pengetahuannya dalam komputer, menjadi orang paling kaya di dunia.  Namun secara umum, bila kita melihat para konsultan adalah contoh konkrit orang-orang yang berusaha dengan modal pengetahuan. Yang menjadi masalah adalah, menjadi konsultan pun membutuhkan “modal” fisik yang besar, yaitu pendidikan.  Saya mengobservasi bahwa rata-rata konsultan memiliki tingkat pendidikan master.

Namun demikian, untuk menjadi konsultan, pengalaman pun merupakan modal utama.  Ada seorang teman saya orang Belanda yang hanya pendidikan Sarjana, tetapi dipakai oleh berbagai negara di Eropa dengan bayaran USD 800 per hari karena pengalamannya di bidang perikanan.  Pengalaman, ditambah dengan kemauan untuk belajar (walau pun bukan dalam bentuk pendidikan formal) dan membaca merupakan modal yang luar biasa bagi kita.  Dan menurut saya, pengalaman yang paling berharga adalah pengalaman menjual.  Cobalah hari ini, untuk melatih, beli satu barang, baju misalnya, dan cobalah jual.  Anda akan merasakan sebuah pengalaman yang sangat berarti, yaitu, anda bisa mulai menghasilkan uang.

Oleh karena itulah, saya selalu menekankan pentingnya memulai bisnis dan bekerja sekarang juga, apa pun bentuknya, karena dengan demikian itu berarti membangun pengalaman, dan membangun modal anda.  Janganlah anda memikirkan besarnya uang yang anda dapatkan di masa awal-awal anda membangun pengalaman, karena pengalaman ini nanti yang akan membuat anda menghasilkan uang.  Proses belajar ini adalah investasi anda.

Tentunya motivasi anda dalam membangun bisnis anda merupakan modal awal juga.  Kemauan dan kerja keras, ditambah dengan berpikir kreatif, akan membuat anda sendiri merupakan modal terbesar.  Saya selalu teringat Abdurrahman bin Auf, bagaimana kemampuan dialah yang utama, bukan modal fisik, yang memungkinkan beliau menjadi pedagang besar di Madinah, walau pun pada saat hijrah seluruh kekayaannya ditinggalkan di Mekkah.

Dan terakhir adalah modal jaringan. Bisa dibayangkan bagaimana seseorang mengetahui kesempatan bisnis kurir antar gedung? Karena adanya informasi mengenai tingginya frekuensi pengiriman surat antar dua gedung.  Bagaimana bisa mendirikan perusahaan angkutan beras antar dua pasar? Karena ada informasi dari pedagang beras yang membutuhkan informasi mengirim berasnya.  Dari mana informasi ini di dapat? Dari jaringan.  Saya fikir ini tantangan kita sekarang, untuk menambah fungsi jaringan da’wah kita menjadi fungsi jaringan bisnis pula.  Caranya? Dengan mengidentifikasi modal apa yang anda miliki dan memulai usaha anda sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *