Seri UKM: Mengapa Bisnis Kita Gagal?

Tyas Utomo Soekarsono, Januari 2002,
Ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia 2001-2010

Dulu saya pernah menulis ada pengusaha yang lima kali gagal sebelum akhirnya berhasil menjadi pengusaha yang sukses dan bertahan.  Saya juga pernah menulis bahwa kita harus memulai usaha kita sekarang, karena kalau tidak, orang tidak akan melihat track record kita.  Saya pun pernah menulis pentingnya membuat perencanaan, sesederhana apa pun perencanaan itu.  Dan saya pun pernah menulis pentingnya laporan keuangan.  Dari seluruh topik-topik yang pernah kita bahas dalam rubrik ini, ada baiknya saya coba ketengahkan bahwa apa yang saya ungkapkan di atas ternyata telah diidentifikasi oleh Zimmerer dan Scarborough dalam bukunya “Enterpreneuship and Small Business Manajemen” sebagai faktor-faktor yang menyebabkan gagalnya usaha kecil.

Tulisan ini akan membahas tiga penyebab pertama gagalnya usaha kecil.

Ketidakmampuan Manajemen dan Kepemimpinan

Kelemahan manajemen yang paling utama dalam sebuah bisnis kecil ialah lemahnya kemampuan mengambil keputusan.  Dimana seringkali para pemilik usaha tidak memiliki kepemimpinan dan pengetahuan yang memadai untuk menjalankan bisnis.  Penelitian menunjukkan bahwa ketidakmampuan ini lebih merupakan faktor pembuat gagal yang lebih dominan dibanding dengan kekurangan uang, bakat dan informasi.

Hal ini memang sering kita rasakan dimana terkadang kita sebagai orang Indonesia sering kali sulit untuk mengambil keputusan.  Seringkali kita tidak berani mengambil tanggung jawab sebagai pemimpin.  Saya sering berfikir bahwa kebanyakan dari kita masih berfikir bahwa kita “low profile”, tidak mau menonjol.  Saya khawatir kita memiliki inferior personality yang kemudian membuat kita takut mengambil keputusan.  Seringkali kita mengambil keputusan bukan berdasarkan kebutuhan kita, tetapi berdasarkan pendapat orang.  Contoh paling mudah, kalau kita datang ke seminar atau kelas waktu kita sekolah.  Bisa dipastikan bahwa yang akan terisi dulu adalah kursi belakang, sampai-sampai sering kali harus diminta untuk mengisi kursi depan.  Yang lebih buruk lagi, kalau kita melihat orang sholat berjamaah di hari Jumat, demikian juga.  Bila kita melakukan survai mengapa orang cenderung duduk di belakang, banyak jawabannya “malu jadi perhatian orang”, “khawatir mengganggu”, “takut dibilang sombong” dsb.  Padahal, tujuan datang ke ruangan adalah mendengarkan seminar.

Bisa dibayangkan bagaimana kalau menjalankan sebuah usaha, tapi kita memiliki kepribadian yang inferior, padahal banyak sekali kita akan berinteraksi dengan orang.  Mulai dari membeli bahan baku, kita tentu harus menawar agar mendapatkan barang yang murah.  Kita tahu kalau di tanah abang, barang-barang murah, tetapi kalau tidak pandai menawar, sami mawon.  Demikian juga pada saat menjual barang dagangan kita, bagaimana mungkin kita berani mencari pembeli dan menawarkan barang kita.  Padahal, dalam menjual, kita harus memiliki seluruh karakter berani, kreatif, menekan gengsi dan sebagainya.  Belum lagi kalau dalam mengatur karyawan, harus berani menentukan peraturan jam kerja, menegur karyawan kalau ada yang selalu datang terlambat, kalau ada karyawan yang tidak mengikuti peraturan perusahaan.  Semuanya itu memerlukan kemampuan untuk mengatur orang dan memimpin.

Kurang Pengalaman

            Saya selalu kemukakan, carilah pengalaman anda sekarang juga.  Pengusaha, kematangannya berbanding lurus dengan pengalamannya.  Pengalaman bisa dibangun dengan berbagai cara.  Bila ingin bisnis toko buku, bisa dimulai dengan bekerja di toko buku dulu, sehingga kita mengetahui seluk beluk siapa penerbit buku yang ada, siapa distributor, bagaimana proses pembelian, bagaimana model potongan harga, dengan rabat atau bonus buku, bagaimana sistem pembayaran toko buku, apa konsinyasi, bayar tunai, atau cicilan.  Bagaimana menangani pembeli, siapa target pembeli kita.  Ini semua bisa dapati bila kita bekerja pada toko buku.

Oleh karena itulah, saya selalu mengungkapkan, kalau kita bekerja ke orang lain, selalu berpikir usaha apa yang dapat saya buka dengan bekerja di sini.  Pelajarilah segala sesuatu yang ada dalam perusahaan tersebut, mulai dari formulir, sistem informasi, sistem kepegawaian, budaya kerja, data penjualan, pembelian dsb.  Bukan artinya mencuri data, tetapi membuka mata atas segala informasi yang berkaitan dengan tempat anda bekerja.  Siapa saat suatu saat seorang pemodal akan memberi modal untuk membuka usaha yang sama.

Bila tidak mau bekerja ke orang lain, dan bila ada modal, mulailah belajar anda dengan membangun bisnis dari kecil saja.  Proses rugi (seperti 5 kali gagal sebelum berhasil) adalah hal yang biasa.  Teman saya seorang pengusaha bercerita, dia menyiapkan dana 3 kali lipat dari modal kerja yang dibutuhkan kalau mulai bisnis baru.  Misalnya, hitung-hitungan di atas kertas anda butuh 10 juta dalam menjalankan usaha, maka teman saya bilang sediakan total 30 juta.  Yang 20 juta untuk ongkos “belajar” seperti ditipu supplier, harga jual yang kemurahan, karyawan yang nakal, dsb.  Nah, “ongkos belajar” ini menjadi lebih murah kalau anda memulai segala sesuatu dari kecil dulu.

Salah satu kriteria wirausahawan adalah kemampuan mengerjakan hal-hal yang mendetail dan admistratif.  Memulai sesuatu yang kecil berarti kita harus mengerjakan semua, mulai dari membeli barang, mencatat pembelian, memproduksi, mengontak penjual, mengantar barang, menerima pembayaran, menulis kuitansi, hingga mencatat penjualan dan membuat catatan keuangan.

Tidak Memiliki Perencanaan Strategis

Sangat banyak diantara kita yang mengabaikan proses perencanaan strategis, dengan pertimbangan hal tersebut hanya cocok untuk perusahaan besar. Namun demikian, pada kenyataannya, banyak usaha kecil yang tidak mampu bertahan karena memang tidak direncanakan untuk bertahan.  Bila tidak berencana, maka sebuah bisnis tidak memiliki dasar yang berkesinambungan untuk menciptkan dan memelihara keunggulan bersaing di pasar.  Membangun sebuah perencanaan akanmembuat seorang pengusaha untuk menilai secara realistis potensi bisnis yang dimiliki.

Saya memiliki teman seorang pengusaha yang terbilang sukses dilihat dari sisi omzet dan jumlah pegawai 400 orang, dan dia selalu bersyukur bahwa semua keberhasilannya ini dapat terjadi walau pun tanpa perencanaan penjualan.  Beliau berjualan makanan pokok yang dijual di pasar-pasar di Jawa Tengah dan Jawa Barat.  Dia boleh dibilang tidak tahu kenapa penjualannya membaik.  Yang dia tahu adalah dia memproduksi makanan yang terbaik dibandingkan dengan pabrik-pabrik lain yang bangkrut di daerahnya.  Namun demikian, di tahun-tahun pada saat penjualannya memburuk, dia pun tidak mengetahui dengan pasti mengapa penjualannya memburuk.

Mengatasi Penyebab Kegagalan di Atas

            Dengan memulai untuk melatih kemampuan ketiga faktor di atas, kita akan belajar dengan cepat.  Yang paling terpenting adalah anda harus mengetahui seluk beluk bisnis anda.  Cari bacaan yang sehubungan dengan bisnis yang ingin anda geluti.  Banyak diskusi dengan para pengusaha dalam bidang itu, dengan asosiasinya dsb.  Wirausahawan yang berhasil harus dapat menyerap berbagai informasi sehubungan dengan bidangnya.

Membuat rencana harus dijadikan kewajiban bagi diri kita sendiri.  Dengan membuat perencanaan, hal itu akan mengubah kata “saya kira” menjadi “saya tahu”.  Perencanaan pun membuat kita tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan bisnis.  Sebagaimana kita fahami, dalam agama sabar merupakan sifat yang dapat membawa kita e surga, demikian juga sabar dalam bisnis membawa kita kepada kesuksesan.  Kawan saya seorang pebisnis menggambarkan ibarat sekolah, sebuah usaha berumur lima tahun belum lah dikatakan bisnis yang matang.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *