Seri UKM: Kultur Bisnis Jepang dan Muslim

Tyas Utomo Soekarsono, April 2004,
Ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia 2001-2010

Tinggal di Jepang dalam tugas mengajar di Kobe selama empat bulan alhamdulillah memberi saya gambaran mengenai pentingnya kultur bisnis bukan hanya dalam pengembangan suatu perusahaan, tetapi juga dalam pembangunan suatu Negara. Saya tergelitik untuk mencoba menghubungkan kultur bisnis ini dengan kultur bisnis kita, muslim, yang mana juga akhirnya sangat penting dalam pembangunan ummat ini secara keseluruhan.

Berbagai teori manajemen Jepang telah ditulis, mulai dari teori Z, Kaizen, TQM, Zero Defect dan lain-lainnya, namun dengan melihat mata kepala sendiri perilaku masyarakat Jepang dalam kehidupan sehari-hari, betul-betul membuat saya mengerti kenapa bangsa ini bisa maju. Yang menyedihkan adalah, ternyata prinsip nilai-nilai kehidupan orang-orang Jepang itu sama dengan nilai-nilai kehidupan yang miliki baik sebagai orang Indonesia, mau pun sebagai muslim.  Nilai-nilai seperti seperti gotong royong, saling tolong menolong, menjunjung tinggi kesopanan, menghormati orang tua, tidak mengganggu, menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi dsb terlihat betul bukan hanya sebagai konsep yang mereka miliki, tetapi menjadi kepribadian mereka.

Berikut ini beberapa kultur masyarakat Jepang yang dibentuk sejak mereka masih dalam pendidikan dasar.

Kerja Keras

Prinsip kerja keras sudah ditanamkan sejak masih kecil.  Motto “negerimu ini adalah negeri miskin sumber daya alam, oleh karena itu engkau harus berjuang kalau ingin hidup” sudah mendarah daging dalam benak anak-anak.  Dalam sebuah diskusi dengan professor Jepang yang cukup senior, dia berkata bahwa Jepang bisa seperti ini justru karena Jepang tidak memiliki apa-apa.  “Kami tidak makan kalau tidak bekerja” kemudian dilanjutkan: “waktu saya muda, saya mengurangi rasa lapar saya dengan bekerja”.

Tidak ada istilah bermalas-malasan, tidak ada kata terlambat dalam sekolah.  Anak-anak SD lebih baik tidak mandi dari pada terlambat sekolah (memang pada kenyataan banyak diantara mereka yang mandi hanya satu kali sehari, tentunya juga karena cuaca yang dingin).  Orang tua diharuskan mengikuti perkembangan pelajaran anak-anaknya, bahkan pelajaran sekolah diberikan dulu ke orang tua untuk diajarkan sebelum belajar di sekolah.

Kalau kita ingat, prinsip kerja keras ini seharusnya sudah tertanam dalam kepribadian muslim juga.  Prinsip jihad, mujahadah adalah salah satu prinsip kerja muslim.  Bukankah para sahabat digambarkan bekerja sebagai prajurit di siang hari, sebagai ahli ibadah di malam?  Bukankah kita disarankan “menjauhkan lambung dari tempat tidur”?  Dan memang sebuah sunatuLlah bahwa orang-orang yang ditempa dengan kesulitan, akan menjadi orang-orang yang sabar dan tegar dalam perjuangan.

Kerja Sama

Kultur yang juga ditanamkan sejak kecil adalah kerja sama.   Hampir dalam setiap penugasan sekolah di tingkat dasar, dibentuk kelompok belajar yang dibagi menurut daerah tempat tinggal mereka, agar mudah berinteraksi di antara mereka.  Tugas-tugas kelompok selalu diberikan untuk dikerjakan bersama-sama, baik di sekolah mau pun di rumah.  Dan yang menarik, kelompok ini selalu diganti-ganti  agar mereka selalu bisa bekerja sama dengan siapa pun.

Dalam perusahaan Jepang pun demikian pula.  Segala keputusan diambil secara kolektif, yang memang dalam prosesnya memakan waktu lebih lama.  “Dukungan” dari para senior dan kolega harus didapat, dan hal ini merupakan seni tersendiri dalam manajemen Jepang.  Senioritas masih merupakan kultur yang dijunjung tinggi  di  kultur dan perusahaan Jepang.   Senioritas dihormati karena dua hal:  pengalaman dan kompetensi, bukan semata-mata umur.  Orang-orang muda boleh saja datang ke perusahaan dengan ide-ide yang brilian.  Namun pengalaman dalam mengatur organisasi, kemampuan interaksi dengan para karyawan, kecakapan menggalang dukungan, hal tersebut tidak akan didapat kecuali dengan pengalaman.

Saya fikir prinsip kerjasama pun merupakan salah satu prinsip kerja muslim, dimulai dari prinsip syuro, kemudian silahturahim, tanpa melepaskan prinsip-prinsip kepemimpinan (qiyadah) dan ketaatan dalam sebuah organisasi.

Kompetisi

Kerjasama dan senioritas tidaklah cukup membuat sebuah kelompok kerja bergerak maju dan dinamis bila tidak ada kompetisi.  Oleh karena itulah, walau pun ada prinsip kerja Prinsip kerja kelompok tidak meninggalkan prinsip kompetisi.  Jangan dikira orang Jepang, walau pun mereka sangat kompak dan komit terhadap timnya, mereka tidak berkompetisi.  Mereka secara sadar membuat kompetisi dalam setiap timnya, dan setiap orang memang berkompetisi untuk menjadi yang terbaik.

Misalnya, dalam Kementrian Industri dan Teknologi (MITI), setiap tahun, direkrut 20 orang dari universitas terbaik di Jepang, yang mana perekrutan mereka untuk menjadi pejabat setara dirjen, dalam waktu 8 tahun.  Dalam kurun waktu  8 tahun, hanya 7 yang dipilih untuk menduduki jabatan tersebut.  Artinya, akan ada 14 orang yang dikeluarkan sebagai pegawai pemerintah kalau tidak memiliki kinerja yang baik.

Oleh karena itu, pertandingan, kompetisi, kalah dan menang, dan sportivitas sudah ditanamkan pula sejak dini.  Orang Jepang percaya kompetisi meningkatkan kualitas. Di sekolah dasar Jepang, setiap bulan September diadakan pertandingan olah raga, dimana setiap angkatan dibagi menjadi dua kelompok, merah dan putih.  Kemudian, kelompok merah kelas satu bertanding dengan kelompok putih kelas satu, kelas dua dengan kelas dua dst.  Pertandingannya pun beda-beda, dimana kelas satu mungkin lari 100 meter, kelas 4 lari estafet, kelas 6 bola volley dsb.  Nilai-nilai pemenang di setiap angkatan dijumlah untuk menentukan siapa pemenangnya: kelompok merah atau putih.  Yang juga menarik, orang tua juga ikut bertanding, sesuai dengan pertandingan yang diikuti anak-anaknya.  Selain olah raga, di bulan Januari, setiap angkatan menciptakan sendiri game dan quiz, yang kemudian dipertandingkan di antara mereka sendiri.

Dalam Islam, konsep Fastabiqul khairat dapatlah disamakan dengan kompetisi.  Tanpa adanya perlombaan, kita tidak akan optimal dan semangat dalam bekerja.

Demikianlah sedikit perbandingan antara kultur Jepang dan Muslim yang dapat saya sampaikan di sini.  Saya ingat seorang ulama menyampaikan bahwa Islam memiliki nilai yang universal yang mana banyak diambil dan diterapkan dengan sangat baik di negara-negara non muslim.  Sering kali kita dengar perkataan “saya menemukan Islam di negara non muslim”. Semoga kita bisa lebih menerapkan nilai-nilai Islami yang kita miliki ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *