Seri UKM: Bentuk Usaha Kemitraan: Keuntungan dan Kerugian

Tyas Utomo Soekarsono, Agustus 2001,
Ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia 2001-20010

Selain bentuk usaha perorangan yang telah dibahas dalam tulisan yang lalu, bentuk usaha lainnya adalah kemitraan (partnership).  Kemitraan  adalah kerjasama dua orang atau lebih yang bersama-sama memiliki sebuah bisnis dengan tujuan menghasilkan laba.  Bentuk kemitraan yang kita kenal adalah firma dan CV.  Firma adalah bentuk kemitraan dimana seluruh mitra berpartisipasi aktif dalam menjalankan usaha dan bertanggung jawab secara bersama-sama.  CV adalah bentuk kemitraan yang mengenal adanya mitra aktif dan pasif (komanditer).  Mitra aktif adalah mitra yang iut memiliki, mengoperasikan, dan mengelola bisnis serta memiliki kewajiban tidak terbatas terhadap hutang persekutuan, sedangkan mitra komanditer adalah anggota kemitraan yang tidak berperan aktif dalam mengelola perusahaan dan kewajibannya pada hutang kemitraan sebatas uang yang ditanamkannya.

Keuntungan Kemitraan

Pendirian yang Mudah.  Sebagamana pendirian perusahaan perorangan, pendirian kemitraan dapat dilakukan dengan cara informal saja bila belum dirasa perlu untuk menjadikan usaha kemitraan tersebut formal dan tercatat.

Ketrampilan yang Saling Melengkapi.  Salah satu alasan memilih mitra adalah keterbatasan dalam mengerjakan sesuatu.  Sebagai contoh, apabila usaha masih kecil, segala kegiatan mulai dari mencari pelanggan hingga memproduksi dapat dilakukan sendiri.  Namun demikian, bila prospek usaha semakin besar, terkadang kegiatan marketing yang memakan banyak waktu dengan rapat-rapat dan lobi mengharuskan seorang pengusaha memerlukan partner yang mengawasi masalah teknis produksi.

            Pembagian Laba Relatif lebih Mudah. Hal ini dapat dilakukan dengan kesepekatan bersama yang ditentukan di awal kerja sama.  Pembagian laba belum tentu sama dengan perbandingan modal, mengingat beban kerja dan tanggung jawab dalam menjalankan bisnis itu.

            Kemudahan dalam mencari Mitra Pasif (Komanditer).  Mitra komanditer dianggap sebagai suatu bentuk kelebihan bentuk usaha kemitraan karena dapat mengakomodasi orang-orang yang bersedia berinvestasi tanpa mau terlibat langsung dalam bisnis, dan bersedia mengambil risiko hanya sebatas uang yang ditanam tersebut.  Selain itu, dengan adanya bentuk kemitraan seperti ini, membuka peluang untuk mencari modal yang lebih besar lagi bagi penggagas suatu usaha (mitra aktif).

            Pengumpulan Modal yang lebih besar.  Bila memang mendatpatkan mitra yang sangat cocok, dan bersedia untuk sama-sama menanam modal serta aktif dalam usaha yang dibangun bersama, tentunya hal ini membuat modal awal sebuah usaha menjadi lebih besar.  Apalagi bila ditambah dengan komitmen yang mencapai harta pribadi, membuat kemungkinan untuk perluasan usaha karena modal yang lebih besar menjadi sangat memungkinkan.

Keluwesan.   Karena bentuk kemitraan ini memang biasanya untuk bentuk usaha yang kecil, maka keluwesan dalam beradaptasi dengan dunia bisnis dan kecepatan dalam mengambil keputusan merupakan sebuah keunggulan.

Kelemahan Kemitraan

Kewajiban tidak Terbatas.  Sebagaimana perusahaan perorangan, bentuk usaha kemitraan ini juga mengharuskan pemilik mempertanggungjawabkan kewajibannya hingga ke harta pribadi (kecuali mitra pasif).

            Akumulasi modal masih kurang optimal.  Walau pun bentuk usaha kemitraan masih lebih baik dalam mencari modal yang lebih besar dibanding mitra perorangan, bentuk usaha ini masih dianggap kurang efektif bila dibandingkan dengan usaha perseoran.

Kesulitan untuk keluar dari Kemitraan.  Salah satu kesulitan dalam kemitraan ini adalah apabila salah seorang ingin keluar dari kemitraan, hal ini tidak dapat dilakukan tanpa membubarkan kemitraan terebut.  Hal ini terjadi karena dalam sebuah kemitraan, bila ingin menarik diri, biasanya saham yang ingin melepaskan diri harus dijual ke mitra yang lain.  Padahal, seringkali mitra yang lain tidak berniat atau tidak memiliki dana untuk membeli saham mitra yang ingin keluar.  Sshingga seringkali kemitraan harus dibubarkan.  Hal ini membuat permasalahan menjadi lebih rumit, apalagi  seringkali nama menjadi trade mark yang diingat oleh para pelanggan.  Oleh karena itulah, apabila membubarkan kemitraan dan menggunakan nama baru, hal ini menyebabkan usaha dalam mensosialisasikan nama baru ini cukup memakan waktu dan uang.

Kurang berkesinambungan.  Selain disebabkan oleh mitra yang keluar, kematian salah seorang mitra akan menyebabkan usaha menjadi bubar.  Hal ini dpat terjadi bila ahli waris dari pihak yang meninggal tidak mau berpartner dengan mitra sang pewaris.

            Potensi konflik.  Sebagaimana umumnya sebuah interaksi, sebaik mungkin hubungan seseorang, potensi konflik tidaklah mungkin untuk dihilangkan.  Hal ini lebih diperbesar dengan kondisi dimana dalam operasional usaha akan terjadi saat-saat dimana kondisinya sangat tegang dan kondisi-kondisi stress dapat terjadi.  Di sinilah sebuah kemitraan benar-benar diuji, dan menurut hemat saya, kunci terpenting dari kelanggengan hubungan ini adalah kesungguhan dan tenggang rasa.    Kesungguhan dalam bekerja dimana komitmen-komitmen kerjasama dilaksanakan dengn sungguh-sungguh oleh kedua belah pihak, dan tenggng rasa dalam menghadapi kelemahan mitra kerja kita.

Menjadi Mitra Pasif atau Pemberi Pinjaman?

            Sebagai semacam pentunjuk yang umum bagi kita semua, saya ingin menggambarkan faktor-faktor apa yang menentukan apakah sebuah kebutuhan dana perusahaan dipenuhi dalam bentuk pinjaman atau penyertaan modal.  Yang menjadi kunci di sini adalah faktor keyakinan, baik keyakinan bagi pemilik uang mau pun keyakinan pemilik usaha.

Apabila seorang pemilik usaha membutuhkan dana untuk pengembangan usaha, maka kita bisa melihat apabila yang diminta adalah pinjaman, maka itu dapat diartikan bahwa yang bersangkutan yakin dapat mengembalikan uang pinjaman tersebut.  Namun apabila yang diminta adalah penyertaan, maka hal itu dapat diartikan bahwa yang bersangkutan kurang yakin dengan pengembalian dan mengharapkan pemilik uang untuk bersama-sama menanggung risiko.

Sebaliknya bagi pemilik uang.  Apabila dia yakin dengan proposal bisnis yang diajukan, maka sang pemilik uang akan cenderung untuk berinvestasi, karena akan menghasilkan lebih besar dibandingkan hanya sekedar memberi pinjaman.  Apabila proposal bisnis kurang meyakinkan, maka memberi pinjaman lebih disukai dibandingkan dengan menjadi mitra pasif.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *