Mengatasi Risiko: Pengalaman Pertama Berbisnis

Seri UKM
Tyas Utomo Soekarsono, Juli 2001,
Ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia 2001-20010

Apabila anda belum pernah sama sekali memulai bisnis, maka ketahuilah bahwa bisnis itu selalu berhubungan dengan risiko. Bahkan seringkali alasan orang-orang untuk tidak segera memulai bisnis karena ketakutan mengambil risiko. Untuk anda yang takut mengambil risiko dalam bisnis, saya hanya ingin menasihati bahwa hidup ini sendiri pun merupakan risiko. Anda bekerja sebagai pegawai pun anda tetap memiliki ketidakpastian: sakit, kecelakaan, kecurian, dan musibah-musibah lain yang akan membutuhkan dana yang mungkin jauh lebih besar dari gaji anda sebagai pegawai. Belum lagi kalau anak-anak semakin besar, uang sekolah semakin mahal, biaya rekreasi keluarga yang tidak murah dan yang lain-lainnya. Dan jangan lupa, sebagai pegawai, anda memiliki risiko dipecat dari tempat anda bekerja.

Oleh karena itu, untuk memulai bisnis adalah dengan latihan mengambil risiko itu sendiri. Banyak sekali hal-hal yang kita perlu lakukan untuk mengatasi risiko ini, dan  beberapa tips di bawah ini semoga dapat memberi anda keberanian dalam memulai bisnis.

Hancurkan “Psychology Barrier” Anda

Saya ingat pada saat saya pertama kali pulang setelah selesai sekolah di tahun 2001, saya membawa tabungan yang cukup banyak (setidaknya menurut saya USD 8.000 dengan kurs sekitar Rp. 10.000 adalah jumlah yang sangat banyak), hasil saya sekolah dan bekerja di Amerika selama 8 tahun. Kepulangan saya ke Indonesia sudah saya niatkan untuk memulai usaha, entah bagaimana caranya. Perlu diketahui, bahwa saya sekolah hingga ke jenjang setinggi-tingginya dalam bidang ekonomi dan manajemen ini, tidak didukung sama sekali dengan pengalaman berbisnis.

Saya betul-betul meniatkan berbisnis itu hanya berdasarkan cita-cita.  Saya tahu berdagang itu sunnah Rasul, saya tahu bahwa kekuatan ummat itu salah satunya adalah kekuatan ekonomi.  Oleh karena itulah, saya motivasikan diri saya, saya harus berbisnis.  Apakah saya meniatkan bisnis karena saya tidak ada kerjaan lain? Sama sekali tidak.  Saya pada saat pulang sebetulnya sudah diterima bekerja di Islamic Development Bank sebagai Young Professional, dengan gaji kotor USD 3.000 plus rumah dan kendaraan di Saudi Arabia.  Pada saat saya pulang pun, professor saya di Amerika mencoba menahan saya dengan menawarkan pekerjaan sebagai Assistant Professor dengan rata-rata USD 5.000 sebulan.  Pada saat saya pulang pun, gaji saya sebagai system administrator di University Illinois pun telah USD 2.500.  Tetapi sekali lagi saya niatkan: saya harus pulang dan memulai bisnis.

Sebulan kepulangan saya di Indonesia, saya bertemu dengan partner bisnis saya hingga sekarang, Nurcholiq Ramdhan, dalam sebuah acara pertemuan di Gedung DPR MPR.  Dia banyak bercerita mengenai bisnis nasyidnya yang dimulai dari tahun 1994.  Perbincangan selama hampir semalaman itu kemudian saya langsung mengambil keputusan, saya bilang ke dia: “Anda sudah memiliki pengalaman bisnis dari tahun 94, saya memiliki pengetahuan akademis mengenai bisnis.  Saya tahu secara teori bagaimana membangun perusahaan dari kecil hingga sebesar-besarnya, oleh karena itulah, marilah kita gabungkan potensi kita ini”.

Demikianlah, hingga akhirnya saya mulai survai ke kantor dia, kami membuat laporan keuangan untuk menunjukkan berapa nilai bisnis dia dan berapa saya harus menaruh uang.  Setelah kami dapat nilainya, ternyata saya harus memasukkan dana Rp. 40 juta untuk dapat berpartner dalam bisnis kami.  Tibalah saat saya benar-benar harus mentransfer uang tersebut.  Ternyata, mentransfer itu tidak semudah niatnya.  Tiba-tiba beribu-ribu kebimbangan muncul di benak saya.  Bisa dibayangkan, selama hidup saya selalu hidup dari gaji, dan setiap ada kelebihan selalu saya tabung.  Saya membayangkan dengan uang Rp 40 juta dapat saya simpan di Bank, dan saya bisa mendapatkan bagi hasilnya.  Lebih-lebih, saya baru kenal Nurchaliq selama satu bulanan.

Akhirnya setelah saya niat-niatkan, istikharah, berdoa habis-habisan, saya transferlah uang itu. Saya berdoa: “Ya Allah, saya telah berikhtiar dengan ilmu dan perhitungan yang telah Engkau ajarkan kepada saya. Apa pun hasilnya, hanya kepada Engkaulah saya bertawakkal”. Dan inilah kuncinya dari pengambilan risiko, sebagaimana yang disebutkan dalam Al Quran: Apabila sudah engkau niatkan, maka bertawakalah kepada Allah.

Aneh sekali, ternyata setelah uang itu saya transfer, ada semacam kelegaan dalam hati saya.  Kelegaan karena saya telah berhasil menerobos “psikologis barrier” dalam hidup saya dari seorang pegawai yang biasanya hidup dari gaji dan pasti, menjadi seorang investor (dalam jumlah sangat kecil tentunya) dan mengambil risiko.  Dan boleh percaya boleh tidak, sejak saat itu saya jauh lebih mudah untuk mengambil keputusan-keputusan yang sehubungan dengan risiko dalam bisnis.  Di atas itu semua, ternyata menjadi pengusaha betul-betul mengajarkan kita untuk berikhtiar dan tawakkal kepada Allah s.w.t.

Jangan Pertaruhkan Semua

Secara psikologis, keberanian kita mengambil risiko berbanding terbalik dengan proporsi uang yang kita pertaruhkan dari uang kita secara keseluruhan.  Sebagai contoh, bila anda memiliki tabungan sebesar Rp. 5 juta, maka bila anda diajak untuk memulai bisnis dengan modal Rp. 4 juta (80% dari total uang anda), maka anda akan berfikir “wah besar sekali risikonya”.  Namun demikian, apabila ternyata modal yang dibutuhkan hanya Rp. 1 juta (20% dari total uang anda), maka anda akan berfikir “ah, kan hanya satu juga, kita coba saja, kalau gagal masih ada Rp. 4 juta”, maka anda akan lebih berani untuk mengambil risiko.

Kita sering bilang “wah berani benar dia, investasi sampai 10 milyar”.  Mungkin saja yang bersangkutan berani mengambil risiko itu karena jumlah uang yang dia miliki Rp. 100 milyar, sehingga 10 milyar hanyalah 10% dari total uangnya.   Jadi, berani karena proporsi yang dipertaruhkan kecil, sama seperti keberanian anda untuk investasi Rp. 1 juta dari total uang anda yang Rp. 5 juta.

Dengan ide di atas, prinsip proporsi ini dapat diaplikasikan bagi anda yang saat ini bekerja.  Misalnya gaji anda Rp. 1 juta, maka anda harus meniatkan menabung misalnya Rp. 300 ribu sebulan (30% dari total uang anda).  Dalam satu tahun anda sudah memiliki Rp. 3.6 juta.  Pada saat uang anda terkumpul, gunakan itu sebagai modal.  Tentu anda akan bertanya-tanya “wah itu kan seluruh tabungan saya?” Betul, tetapi anda toh tetap memiliki gaji anda sebagai pegawai yang 70% itu.  Kalau masih takut juga, mungkin tunggu sampai 2 tahun, sehingga tabungan anda Rp. 7.2 juta, dan anda bisa gunakan 3 juta dulu.  Tapi kalau masih takut juga, selamat menjadi pegawai selamanya dengan risiko berhutang yang jauh lebih besar!

Ambil Resiko Bersama

Alternatif lain, carilah partner bisnis yang anda betul-betul dapat anda percaya, dan bersama-sama membangun bisnis.  Ada beberapa persyaratan yang saya fikir sangat penting dalam menambah keberanian mengambil risiko.  Pertama, anda harus benar-benar cocok dengan partner anda. Biasanya partner dipilih teman lama, karena sudah saling mengenal karakter masing-masing. Walau pun tidak selalu teman lama bisa diajak berbisnis.  Dengan pengalaman, anda akan dapat mencari partner baru yang anda rasa “chemistry” nya cocok. Ini merupakan persyaratan utama karena berpartner itu seperti “menikah” harus ada kesamaan misi, visi, ritme kerja, cita-cita.

Kedua, Anda dan partner anda sama-sama menaruh uang dalam bisnis tersebut. Dengan menaruh dana bersama, maka akan bahu membahu untuk berjuang menyuksseskan bisnis yang anda bangun. Ketiga, anda dan partner anda harus sama-sama membangun bisnis anda. Dengan demikian, anda dan partner betul-betul bersama-sama dalam “satu kapal”, terombang-ambing bersama, mengayuh bersama dan berjuang bersama.

Dengan memiliki partner, seluruh kekhawatiran anda, juga merupakan kekhwatiran partner anda. Ketegangan anda, ketegangan dia juga. Dengan demikian, semuanya bisa dibagi. Saya bisa telpon jam 11 malam berjam-jam dengan partner bisnis bila ada permasalahan dalam perusahaan. Dengan demikian, ketegangan dapat berkurang karena adanya diskusi, atau mungkin kita kenal dengan istilah syuro. Sebagaimana kita faham, ada keberkahan dalam musyawarah dalam Islam. Kita pun mengenal istilah “dua kepala lebih baik dari satu kepala” dan sebagainya yang menunjukkan perlunya diskusi dalam berbagai hal.

Demikianlah beberapa hal simple di awal yang dapat anda coba untuk mengatasi dan mengurangi risiko dalam berbisnis. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *